Awal 2026 memperlihatkan fenomena yang menarik di Sulawesi Tenggara (Sultra), atau yang kerap dijuluki sebagai Bumi Anoa. Lonjakan harga emas global yang merambat ke pasar domestik mendorong peningkatan aktivitas pembelian emas di sejumlah gerai Pegadaian dan toko logam mulia di Kota Kendari. Permintaan tidak hanya datang dari pembelian tunai, tetapi juga melalui skema cicilan. Bazar emas yang digelar di beberapa titik kota pun ramai diserbu masyarakat, terutama kalangan ibu rumah tangga di Bumi Anoa.
Secara teori, kenaikan harga suatu komoditas tidak selalu meningkatkan permintaan. Namun, emas memiliki karakter berbeda. Dalam kondisi ketidakpastian ekonomi, fluktuasi geopolitik, dan dinamika nilai tukar, emas justru dipandang sebagai instrumen lindung nilai. Ketika risiko meningkat, preferensi terhadap aset aman ikut menguat.
Di sinilah momentum itu muncul bagi masyarakat Bumi Anoa.
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa pada 2025 sebanyak 16,96 persen rumah tangga di Sultra telah memiliki emas atau perhiasan minimal 10 gram. Di beberapa daerah, angkanya bahkan jauh lebih tinggi, seperti Wakatobi sebesar 42,74 persen dan Baubau 32,05 persen. Angka ini menegaskan bahwa budaya menyimpan emas telah lama mengakar dalam struktur sosial ekonomi masyarakat Bumi Anoa.
Namun, kepemilikan belum tentu identik dengan investasi.
Sebagian besar emas rumah tangga masih berbentuk perhiasan tradisional yang berfungsi sebagai simpanan pasif. Emas dibeli untuk disimpan, bukan dikelola sebagai bagian dari strategi perencanaan keuangan. Dalam konteks volatilitas global saat ini, pendekatan tersebut perlu diperluas agar masyarakat Bumi Anoa tidak sekadar menjadi penyimpan, tetapi juga investor yang rasional.
Secara global, 2025 menjadi tahun bersejarah bagi emas. Permintaan dunia menembus 5.002 ton, didominasi kebutuhan investasi berupa emas batangan, koin, dan produk ETF. Harga emas dunia mencetak rekor berulang kali, menyentuh kisaran US$4.400 per troy ounce pada akhir 2025 dan tetap berada di level tinggi memasuki 2026. Proyeksi sejumlah analis bahkan menunjukkan potensi harga mendekati US$5.000 per troy ounce.
Kenaikan ini bukan dipicu kelangkaan pasokan, melainkan respons terhadap ketidakpastian makroekonomi global, mulai dari ketegangan geopolitik hingga pergeseran kebijakan moneter. Emas kembali memainkan fungsi moneter sebagai penyimpan nilai ketika kepercayaan terhadap aset finansial lain mengalami tekanan.
Respons domestik sejalan dengan tren global tersebut.
Survei World Gold Council mencatat 67 persen investor Indonesia memiliki emas, menjadikannya salah satu aset paling populer setelah tabungan. Di sisi lain, perdagangan emas fisik digital di Indonesia Commodity and Derivatives Exchange pada 2025 mencapai 58,65 juta gram dengan nilai transaksi sekitar Rp115,6 triliun. Pertumbuhan ini menunjukkan pergeseran perilaku investasi masyarakat menuju kanal digital yang lebih efisien dan likuid.
Dalam konteks Bumi Anoa, fenomena ini seharusnya dibaca sebagai peluang investasi yang menarik.
Provinsi ini memiliki basis budaya emas yang relatif kuat. Namun, tanpa literasi investasi yang memadai, emas berisiko hanya menjadi aset pasif. Padahal, dengan pengelolaan yang tepat, emas dapat menjadi instrumen diversifikasi risiko bagi rumah tangga di Bumi Anoa yang sebagian besar bertumpu pada sektor komoditas, perikanan, dan usaha mikro.
Investasi emas bukan tanpa risiko. Spread harga jual dan buyback emas ritel di Indonesia dapat mencapai 5 sampai 6 persen. Artinya, emas tidak cocok untuk transaksi jangka sangat pendek. Ia lebih relevan sebagai aset jangka menengah hingga panjang, dengan strategi akumulasi bertahap sesuai kemampuan.
Dalam kerangka kebijakan daerah, penguatan literasi investasi menjadi kunci. Otoritas keuangan daerah, lembaga pendidikan, dan pelaku industri perlu mendorong pemahaman mengenai perbedaan emas fisik dan digital, manajemen risiko, serta pentingnya horizon waktu investasi. Tanpa edukasi yang tepat, momentum kenaikan harga berpotensi memicu perilaku spekulatif alih alih perencanaan yang sehat di Bumi Anoa.
Ke depan, budaya investasi emas di Bumi Anoa tidak boleh berhenti pada euforia harga.
Ia harus diarahkan menjadi bagian dari strategi ketahanan keuangan rumah tangga. Diversifikasi sederhana, yakni mengombinasikan tabungan, usaha produktif, dan emas, dapat memperkuat daya tahan masyarakat Bumi Anoa terhadap guncangan ekonomi, baik yang bersumber dari inflasi, fluktuasi komoditas, maupun ketidakpastian global.
Pada akhirnya, emas bukan sekadar komoditas yang sedang bersinar. Ia adalah refleksi cara masyarakat membaca risiko.
Jika dikelola dengan literasi dan perencanaan yang tepat, emas dapat menjadi instrumen anti cemas bagi rumah tangga Bumi Anoa, bukan karena harganya selalu naik, melainkan karena fungsinya sebagai pelindung nilai di tengah dunia yang semakin tidak pasti.
Momentum ini semestinya menjadi titik refleksi struktural bagi Bumi Anoa. Sulawesi Tenggara telah memiliki budaya menyimpan emas. Tantangannya kini adalah mentransformasikannya menjadi budaya investasi yang rasional, terukur, dan berkelanjutan.
Karena dalam konteks ekonomi daerah, ketahanan tidak hanya ditentukan oleh pertumbuhan sektor unggulan, tetapi juga oleh kesiapan rumah tangga menghadapi risiko.
Dan di tengah dinamika global yang terus berubah, emas dapat menjadi salah satu pilar ketahanan ekonomi Bumi Anoa sepanjang dikelola dengan bijak.
Oleh:
Rabiul Misa
Analis Yunior di Bank Indonesia

Komentar