Narasi Utama
Beranda / Narasi Utama / Kemenhaj Siapkan Platform Digital Oleh-Oleh Haji, UMKM Lokal Jadi Tuan Rumah

Kemenhaj Siapkan Platform Digital Oleh-Oleh Haji, UMKM Lokal Jadi Tuan Rumah

Suasana Jamaah Haji di Pasar UMKM (Foto: himpuh)

JAKARTA, Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) tengah menyiapkan terobosan baru untuk mempermudah jamaah haji dalam membeli oleh-oleh tanpa harus berbelanja langsung di Arab Saudi. Inovasi tersebut berupa pengembangan platform digital khusus oleh-oleh haji yang terintegrasi dengan produk-produk unggulan buatan dalam negeri.

Langkah ini tidak hanya ditujukan untuk memberikan kemudahan bagi jamaah, tetapi juga sebagai upaya strategis memperkuat peran Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Indonesia dalam ekosistem ekonomi haji yang selama ini dinilai masih didominasi produk luar negeri.

Dirjen Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah Kemenhaj, Jaenal Effendi, mengungkapkan bahwa selama ini banyak produk oleh-oleh yang beredar di Tanah Suci ternyata berasal dari Indonesia. Fakta tersebut menjadi dasar kuat lahirnya gagasan agar jamaah dapat langsung membeli oleh-oleh dari produsen dalam negeri.

“Selama ini jamaah membeli barang di Saudi, padahal produknya berasal dari Indonesia. Maka kami sedang mengembangkan platform oleh-oleh haji. Jamaah belum sampai ke rumah, barangnya sudah tiba lebih dulu,” ujar Jaenal, sebagaimana dikutip dari himpuhnews, Selasa (27/1/2026)

59 Pegawai Kanwil Ditjenpas Sultra Naik Pangkat Lewat Penyesuaian Ijazah, Ini Pesan Tegas Kakanwil

Ia menegaskan, skema ini akan memangkas biaya yang selama ini mengalir ke luar negeri. Jamaah cukup memesan melalui aplikasi, bahkan sejak masih berada di asrama haji, lalu barang akan dikirim langsung ke alamat rumah menggunakan jasa logistik di Indonesia. Informasi ini, dilansir dari HIMPUHNEWS, menjadi bagian dari transformasi ekonomi haji berbasis digital yang tengah disiapkan Kemenhaj.

Jaenal juga mengungkapkan bahwa produk-produk seperti tasbih dan sajadah yang dijual luas di pasar Makkah sebagian besar diproduksi oleh perajin Indonesia. Ia mencontohkan tasbih dari Jepara yang mendominasi pasar, serta cokelat asal Garut yang dinilai memiliki potensi besar menjadi oleh-oleh resmi jamaah haji.

“Tasbih-tasbih yang ada di Saudi itu ternyata datang dari Jepara. Cokelat dari Garut juga potensial. Ini tugas kami untuk mengidentifikasi dan memetakan produk apa saja yang bisa dijadikan oleh-oleh,” jelasnya.

Tak hanya produk kerajinan, Kemenhaj juga mulai memetakan potensi hasil pertanian lokal. Salah satunya adalah kurma dari Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB), yang disebut memiliki kualitas nutrisi terbaik ke-7 di dunia dan berpeluang masuk dalam daftar oleh-oleh haji unggulan.

Ke depan, Kemenhaj berencana menggelar Expo UMKM Oleh-Oleh Haji sebagai ajang kurasi produk. Pameran ini akan dibagi ke dalam tiga zona, yakni wilayah Indonesia barat, tengah, dan timur, guna memastikan pemerataan kesempatan bagi pelaku UMKM di seluruh daerah.

Langkah Strategis Ditjenpas Sultra: Eks Rutan Raha Jadi Pos Bapas, Apa Dampaknya bagi Warga Muna?

Jaenal optimistis platform belanja digital ini akan mendapat sambutan positif dari jamaah. Selain praktis dan efisien, skema ini juga mengurangi kerepotan membawa barang berat dari Arab Saudi. Berdasarkan data yang dihimpun, jamaah haji rata-rata membawa uang saku dalam jumlah besar dan mampu membeli hingga 20 kilogram oleh-oleh.

“Jika potensi belanja tersebut dialihkan ke UMKM lokal melalui platform resmi, dampak ekonominya diyakini akan sangat besar, khususnya bagi daerah-daerah sentra produksi di Indonesia. Dengan begitu, ibadah haji tak hanya membawa keberkahan spiritual, tetapi juga menggerakkan roda ekonomi nasional,” kata Jaenal. (Red)

Artikel Terkait

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *